Bolehkah Punya Cita-Cita?

Seorang pertapa boleh mengatakan dengan te­gas bahwa dia tidak mencari apa-apa. Akan te­tapi, menolak atau menjauhi sesuatu itu sama arti­nya dengan mencari sesuatu, kecuali kalau kita benar-benar melihatnya bahwa yang kita jauhi itu adalah tidak baik bagi kita lahir maupun batin. Dan bentuk pencarian, betapapun agungnya yang dicari-cari itu, berarti suatu pengejaran, suatu ke­inginan, suatu cita-cita. Dan di mana ada cita-cita, tentu timbul dalil bahwa cita-cita mengha­lalkan segala cara. Dan dalam cara inilah letak persoalannya, karena cara inilah yang menentukan bersih dan kotornya. Bukan cita-cita yang hanya merupakan khayal dan keinginan yang belum tercapai saja. Yang penting bukan cita-citanya, melainkan caranya itulah. Dan cara-cara yang cu­rang dan kotor timbul dengan ditutupi pakaian berupa alasan untuk atau demi cita-cita!

Seorang yang bercita-cita menjadi raja, tentu akan mempergunakan segala macam cara untuk melaksanakan cita-citanya agar terkabul. Kalau perlu, dia akan menyingkirkan semua rintangan dan saingannya, baik dengan cara jujur atau cu­rang, bisa saja dia mencelakakan atau membunuh saingan-saingan yang menjadi penghalang cita-citanya, berjuang mati-matian demi mencapai cita-citanya itu. Hal ini bukan dongeng kosong belaka melainkan dapat kita lihat seridiri di seluruh penjuru dunia dan di negara manapun juga. Se­baliknya, walaupun tanpa cita-cita menjadi raja, seorang yang benar-benar cakap dan berbakat dan tepat untuk kedudukan itu, bisa saja dipilih atau diangkat menjadi raja!

Seorang yang bercita-cita menjadi orang baik, akan berusaha sedapatnya untuk melakukan “hal-hal baik” yang sesuai dengan penilaian umum, dan berbuatlah dia hal-hal yang sebenarnya palsu, mungkin berlawanan dengan hati nuraninya, hanya untuk memenuhi cita-citanya agar menjadi orang baik! Kebaikan yang dilakukan adalah kebaikan palsu dan amat berbahaya bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Kemunafikan adalah iba­rat harimau bertopeng domba, dan ini lebih berbahaya daripada harimau dengan mukanya sen­diri sehingga kita dapat menghindar atau berjaga diri. Orang yang hidupnya disinari cahaya cinta kasih, berbuat tanpa pamrih, wajar dan apa ada­nya, tidak menilai perbuatannya sebagai baik atau buruk. Perbuatan apapun di dunia ini yang dida­sari cinta kasih, sudah jelas baik adanya!

sumber: Kisah Para Pendekar Pulau Es, karya Kho Ping hoo

Dipedalkeun dina: on Pébruari 24, 2009 at 09:38  Kantunkeun Pairan  
Tags:

URI pikeun RaratMalik ieu tulisan nyaéta: http://adun.wordpress.com/2009/02/24/bolehkah-punya-cita-cita/trackback/

Feed RSS kanggo pairan dina ieu seratan.

Kantunkeun Balesan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Robih )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Robih )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Robih )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.