Koruptor yang Royal

Keinginan agar di­anggap sebagai seorang baik, orang pandai dan yang serba menonjol merupakan penyakit kita semua, walaupun kadang-kadang sifat itu kita lakukan di luar kesadaran kita sendiri. Kita sukar menghentikan perbuatan-perbuatan buruk yang sudah menjadi kebiasaan, kebiasaan-kebiasaan buruk yang sesungguhnya menjadi cara untuk mencari atau mencapai kesenangan. Akan tetapi di samping itu, ada hasrat dalam batin kita untuk dianggap sebagai orang baik tanpa cacat. Inilah sebabnya mengapa para koruptor condong untuk menjadi penderma paling royal.

Bahkan orang yang dianggap paling jahat sekalipun, di lubuk hatinya merindukan kehormatan dan nama baik ini. Maka terjadilah konflik dalam batin antara kenyataan yang ada dengan keinginan yang kita dambakan. Kalau saja pelaku kejahatan mengakui kejahatannya lahir batin, maka dunia dan kehidupan ini agaknya akan menjadi berbeda.

Kita condong untuk membela perbuatan kita, memulasnya agar nampak tidak kotor, bahkan kita selalu mengingkari semua perbuatan buruk kita, hanya karena ingin memenuhi hasrat hati, yaitu ingin dianggap baik dan terhor­mat itulah!

Maka timbullah kepura-puraan, timbullah kemunafikan. Perbuatan yang oleh umum dianggap baik bagaimanapun juga, kalau hal itu dilakukan karena ada pamrih ingin dianggap baik, maka perbuatan itu adalah suatu hal yang kotor dan palsu, yang munafik dan karenanya jelas tidak baik lagi.

Perbuatan baik adalah perbuatan yang tidak dinilai sama sekali oleh pelakunya, perbuatan yang wajar, perbuatan yang dilakukan dengan dasar cinta kasih sehingga perbuatan itu tidak ada ujung pangkalnya, tidak ada sebab akibatnya, tidak terikat karma. Perbuatan berdasarkan cinta kasih adalah wajar, tidak melepas atau menanam budi, tidak menimbulkan dendam, tidak ditumpuk dalam ingatan, dan selesai sampai di saat itu saja!

sumber: Kisah Para Pendekar Pulau Es, karya Kho Ping Hoo

Dipedalkeun dina: on Maret 10, 2009 at 01:36  Kantunkeun Pairan  
Tags: , , , ,

Bolehkah Punya Cita-Cita?

Seorang pertapa boleh mengatakan dengan te­gas bahwa dia tidak mencari apa-apa. Akan te­tapi, menolak atau menjauhi sesuatu itu sama arti­nya dengan mencari sesuatu, kecuali kalau kita benar-benar melihatnya bahwa yang kita jauhi itu adalah tidak baik bagi kita lahir maupun batin. Dan bentuk pencarian, betapapun agungnya yang dicari-cari itu, berarti suatu pengejaran, suatu ke­inginan, suatu cita-cita. Dan di mana ada cita-cita, tentu timbul dalil bahwa cita-cita mengha­lalkan segala cara. Dan dalam cara inilah letak persoalannya, karena cara inilah yang menentukan bersih dan kotornya. Bukan cita-cita yang hanya merupakan khayal dan keinginan yang belum tercapai saja. Yang penting bukan cita-citanya, melainkan caranya itulah. Dan cara-cara yang cu­rang dan kotor timbul dengan ditutupi pakaian berupa alasan untuk atau demi cita-cita!

Seorang yang bercita-cita menjadi raja, tentu akan mempergunakan segala macam cara untuk melaksanakan cita-citanya agar terkabul. Kalau perlu, dia akan menyingkirkan semua rintangan dan saingannya, baik dengan cara jujur atau cu­rang, bisa saja dia mencelakakan atau membunuh saingan-saingan yang menjadi penghalang cita-citanya, berjuang mati-matian demi mencapai cita-citanya itu. Hal ini bukan dongeng kosong belaka melainkan dapat kita lihat seridiri di seluruh penjuru dunia dan di negara manapun juga. Se­baliknya, walaupun tanpa cita-cita menjadi raja, seorang yang benar-benar cakap dan berbakat dan tepat untuk kedudukan itu, bisa saja dipilih atau diangkat menjadi raja!

Seorang yang bercita-cita menjadi orang baik, akan berusaha sedapatnya untuk melakukan “hal-hal baik” yang sesuai dengan penilaian umum, dan berbuatlah dia hal-hal yang sebenarnya palsu, mungkin berlawanan dengan hati nuraninya, hanya untuk memenuhi cita-citanya agar menjadi orang baik! Kebaikan yang dilakukan adalah kebaikan palsu dan amat berbahaya bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Kemunafikan adalah iba­rat harimau bertopeng domba, dan ini lebih berbahaya daripada harimau dengan mukanya sen­diri sehingga kita dapat menghindar atau berjaga diri. Orang yang hidupnya disinari cahaya cinta kasih, berbuat tanpa pamrih, wajar dan apa ada­nya, tidak menilai perbuatannya sebagai baik atau buruk. Perbuatan apapun di dunia ini yang dida­sari cinta kasih, sudah jelas baik adanya!

sumber: Kisah Para Pendekar Pulau Es, karya Kho Ping hoo

Dipedalkeun dina: on Pébruari 24, 2009 at 09:38  Kantunkeun Pairan  
Tags:

Marah dan Benci

Kemarahan yang mendatangkan kebencian itu merupakan api dalam batin yang tidak dapat dilenyapkan dengan jalan menutup-nutupinya dengan kesabaran atau dengan mencoba untuk melupakan melalui hiburan-hiburan. Kalau kita marah kepada seseorang, kepada isteri atau suami umpamanya, lalu kita sabar-sabarkan dengan alasan-alasan yang kita buat sendiri, memang dapat kita menjadi sabar dan tenang. Akan tetapi, api kemarahan itu sendiri belum padam, masih bernyala di dalam batin, hanya tidak berkobar-kobar, tidak me­ledak karena ditutup oleh kesabaran yang kita ciptakan melalui pertimbangan-per­timbangan dan akal budi.

Seperti api dalam sekam. Kalau mendapatkan ketika, maka api kemarahan yang masih bernyala itu akan berkobar lagi, akan meledak lagi dalam kemarahan yang mengambil sasaran lain, mungkin kita lalu akan marah-marah kepada anak kita, kepada pembantu kita, kepada teman dan sebagainya! Maka kita akan terperosok ke dalam lingkaran setan yang tiada berkeputusan, marah lagi bersabar lagi, marah lagi, bersabar lagi dan seterusnya, melakukan perang terhadap kemarahan yang pada hakekatnya adalah diri kita sendiri. Terjadilah konflik di dalam batin yang terus-menerus antara keadaan kita yang marah dan keinginan kita untuk tidak marah!

Akan terjadi hal yang sama sekali berbeda apabila di waktu kemarahan timbul kita hanya mengamatinya saja! Mengamati tanpa penilaian buruk atau baik, tanpa menyalahkan atau membenarkan. Ini berarti tanpa adanya aku atau sesuatu yang mengamati, karena begitu ada si aku yang mengamati, sudah pasti timbul penilaian dari si aku. Jadi yang ada hanyalah pengamatan saja, mengamati dan menyelidiki kemarahan itu, mengikuti segala gerak-geriknya penuh perhatian. Yang ada hanya PERHATIAN saja, tanpa ada yang memperhatikan. Pengamatan tanpa si aku yang mengamati inilah yang akan melenyapkan atau memadamkan api kemarahan itu, tanpa ada unsur kesengajaan atau daya upaya untuk memadamkan!

Dari manakah timbulnya kebencian?

Kalau kita semua membuka mata memandang, akan nampak jelas bahwa benci timbul karena si aku merasa dirugikan, baik dirugikan secara lahiriah, misalnya dirugikan uang, kedudukan nama dan sebagainya, maupun dirugikan secara batiniah, seperti dihina, dibikin malu dan sebagainya. Karena merasa dirugikan, maka timbullah kemarahan yang melahirkan kebencian. Kebencian ini seperti racun menggerogoti batin kita, menuntut adanya pembalasan, ingin mencelakakan orang yang kita benci, menimbulkan perasaan sadis yang dapat dipuaskan oleh penderitaan dia yang kita benci sehingga tidak jarang mendatangkan perbuatan-perbuatan kejam yang kita lakukan ter­hadap orang yang kita benci demi untuk memuaskan dendam!

Kebencian ini dipupuk oleh pikiran yang bekerja dan yang sibuk terus, mengoceh, menilai, mendorong, menarik, mengendalikan. Kadang-kadang pikiran membenarkan kebencian dengan berbagai dalih, kadang-kadang pula menyalahkan. Terjadilah konflik batin ini memboroskan enersi batin. Pemborosan enersi batin ini memupuk dan memberi kelangsungan kepada kebencian itu, karena pikiran bekerja terus mengingat-ingat dan menghidupkan segala hal yang terjadi, yang merugikan kita dan mendatangkan kebencian itu. Padahal kebencian itu adalah aku sendiri, kebencian adalah pikiran itulah! Pikiran menciptakan aku dan karena aku dirugikan, timbullah benci. Jadi benci dan aku tidaklah terpisah.

Kalau pikiran tidak bekerja untuk menilai, kalau yang ada hanya pengamatan terhadap kebencian itu, berarti pikiran menjadi hening, pengamatan tanpa penilaian terhadap kebencian, maka kebencian akan kehilangan daya gerak, akan kehilangan pupuk, kehilangan kelangsungan yang dihidupkan oleh pikiran yang menilai-nilai. Dan kalau sudah begitu, maka kemarahan, kebencian akan lenyap dengan sendirinya, seperti api yang kehabisan bahan bakar. Pikiran yang mengingat-ingat dan menilai-nilai itulah merupakan bahak bakar.

Baik kebencian itu merupakan kebencian perorangan, kebencian demi suku, demi bangsa, dan sebagainya, pada hakekatnya adalah sama, karena di situ tentu terkandung si aku yang merasa dirugikan. Si aku dapat berkembang menjadi sukuku, bangsaku, agamaku, keluargaku, dan selanjutnya.

Tulisan ini adalah kutipan dari karya Kho Ping Hoo dari seri “Suling Emas” yang berjudul “Naga Siluman”.

Dipedalkeun dina: on Januari 29, 2009 at 11:02  Kantunkeun Pairan  
Tags: , , , , , ,

Salahkah Jika Kita Berbakti?

Sejak jaman dahulu, berbakti ter­hadap guru atau orang tua dianggap se­bagai ketaatan si anak terhadap guru atau orang tua. Dan melihat bahwa di sini terdapat suatu hal yang amat mengun­tungkan maka kata “berbakti” itu diper­gunakan oleh guru atau orang tua untuk membuat murid atau anak menjadi tidak berdaya! Setiap kali seorang anak tidak menurut kata-kata orang tua, maka anak itu akan dicap sebagai anak “put-hauw” (tidak berbakti) sehingga si anak terbiasa untuk mentaati segala perintah orang tua agar menjadi anak berbakti. Dan biarpun pada lahirnya si anak mentaati karena ingin disebut berbakti, di dalam hatinya si anak mengeluh dan memberi cap ke­pada orang tuanya sebagai “tidak mencintanya”. Maka timbullah celah yang besar antara orang tua dan anak.

Si orang tua ingin anaknya mentaatinya, dengan dalih bahwa semua perintahnya itu demi kebahagiaan dan kebaikan si anak, sikap seperti ini sesungguhnya bu­kan lain hanyalah sikap mementingkan diri sendiri, mencari enaknya sendiri, ka­rena kalau anaknya taat, dialah yang akan merasakan senang dan berbahagia. Si orang tua sudah memastikan bahwa apa yang dianggapnya baik itu MESTI baik pula bagi si anak dan apa yang dianggapnya membahagiakan itu mesti pula mem­bahagiakan si anak! Sikap seperti ini yang sampai sekarang masih dipraktekkan oleh orang-orang tua yang sesungguhnya timbul karena kekurangpengertian, menciptakan apa yang dinamakan “gap” atau celah antara orang tua dan anak.

Ada­nya celah yang merenggangkan orang tua dan anaknya adalah karena tidak adanya kasih sayang, tidak adanya cinta kasih dalam batin masing-masing. Kalau ada cinta kasih, maka tidak ada lagi istilah berbakti atau durhaka, yang ada hanyalah kerja sama, saling membantu dalam hi­dup secara wajar, tanpa ingin disebut baik karena bantuan-bantuan masing-ma­sing itu, yang ada hanyalah kasih sayang dan tidak ada sedikit pun keinginan un­tuk senang sendiri, menang sendiri, atau benar sendiri!

Betapa bahagianya sebuah rumah tangga jika terdapat kasih sayang ini di antara suami, isteri, dan anak-anak mereka! Peraturan-peraturan yang kaku dan dipaksakan hanya menimbulkan kemanisan lahir saja namun di dalam batin masing-masing merasa sakit hati dan menaruh dendam, kebencian terselubung senyum dan sikap ramah tamah palsu. Dan suasana seperti itu hanya dapat tercipta apabila dimulai dari diri sendiri! Bukan ingin mengatur orang lain.

Cinta kasih harus timbul dari batin sen­diri dan cinta kasih sama sekali tidak mengharapkan balas dari orang lain. Na­mun cinta kasih mengandung daya muji­jat yang dapat membersihkan dan me­nerangkan orang lain pula! 

Tulisan ini adalah kutipan dari karya Kho Ping Hoo dari seri “Suling Emas” yang berjudul “Naga Siluman”.

Dipedalkeun dina: on Januari 28, 2009 at 04:12  Kantunkeun Pairan  
Tags: , , , , , ,

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Dipedalkeun dina: on Januari 28, 2009 at 03:32  Pairan (1)  
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.